
flower generation
Generasi bunga muncul di Amerika pada akhir 1960-an, bertepatan dengan maraknya Perang Vietnam. Mereka memprotes perang tersebut dengan meneriakkan slogan make love not war.
Perang Vietnam dimulai, 1959. Tak ada yang tahu bahwa perang ini akan menimbulkan sesuatu yang fenomenal dan menjadi legenda di kemudian hari. Perang Vietnam ini telah melahirkan satu generasi legendaris yang disebut dengan Flower Generation (Generasi Bunga).
Generasi Bunga, generasi anak-anak muda berumur di bawah 30 tahun yang hidup di era akhir 1960-an hingga pertengahan 1970-an, muncul sebagai counter culture terhadap budaya kemapanan. Isu rasial, Perang Dingin dan ancaman perang nuklir adalah pemicu lain dari munculnya Generasi ini. Ia seakan menjadi bom yang siap meledak sewaktu-waktu.
Bom waktu itu meledak saat perang Vietnam meletus. Anak-anak muda yang muak dengan kemapanan dan perang, berkumpul dan lahirlah sebuah generasi baru, Generasi Bunga.
Dengan semangat “fight with flower” (lawanlah dengan bunga), Generasi Bunga melakukan protes anti perang tanpa kekerasan. Umumnya mereka memakai baju dengan warna yang mencolok ( tie dye ). Warna-warna ceria ini adalah simbol dari halusinasi saat memakai LSD. Mereka biasanya mengombinasikannya dengan celana cut bray dan beberapa aksesories kaum bohemian.
Generasi ini juga sering diasosiasikan sebagai kaum hippies. Jesse Sheidlower, seorang leksikografer yang juga seorang editor dari Oxford English Dictionary, menyebutkan bahwa istilah “hipster” dan “hippie” berasal dari kata “hip” yang sebenarnya arti aslinya tidak diketahui. Malcolm- X pernah menyebut dalam biografinya, bahwa kata “hippy” merujuk pada orang kulit putih yang bertingkah seperti orang kulit hitam Amerika, bahkan melebihi tingkah polah warga kulit hitam itu sendiri. Banyak orang mengidentikan kaum hippy dengan kebebasan dan ketidakteraturan. Nyatanya, kaum hippies memang berusaha keluar dari kehidupan formal masyarakat disekitarnya.
Generasi Bunga (Flower Generation) adalah periode puncak kejayaan musik rock. Perpaduan antara lirik yang cenderung absurd dan musikalitas yang tidak bertepi dan tidak biasa, menjadi pemikat.
Jimi Hendrix
Tentu saja puncak musik rock era Flower Generation ini terjadi pada tahun 1969. Sebuah lahan pertanian seluas 240 hektar milik Max Yasgur yang terletak di Bethel, New York menjadi saksi bisu pagelaran musik Woodstock yang legendaris yang diadakan mulai tanggal 15 – 18 Agustus. Bukan sesuatu yang luar biasa bila Pagelaran Woodstock masuk dalam “50 Moments That Changed the History of Rock and Roll” versi majalah Rolling Stone.
Banyak musisi yang belakangan menjadi besar tampil di sana, mewakili etos solidaritas dan semangat. Kata semangat mungkin pantas ditujukan pada Joan Baez yang sedang hamil 6 bulan saat tampil di Woodstock! Santana (masih muda, brewokan dan memakai gitar Gibson SG), The Grateful Dead, CCR, The Who, Jhonny Winter dan saudaranya Edgar Winter, Janis Joplin, dan pastinya sang dewa gitar Jimi Hendrix, adalah nama-nama yang tampil di Woodstock yang legendaris itu. Diperkirakan lebih dari 500.000 “hippies” datang dan menyaksikan acara ini.
Rockstar produk Generasi Bunga adalah bintang yang dipuja oleh generasi musisi yang datang belakangan. Para pemuja ini mengamini gaya hidup pujaannya: obat bius, seks, dan rock and roll.
Tahun 1975, perang Vietnam berakhir. Tentara Amerika pulang menanggung malu. Berakhirnya perang itu juga menjadi lonceng penanda akhir masa Generasi Bunga. Masa hura-hura selesai, saatnya kembali ke dunia nyata.
Kini, remaja era tahun 1990-an dan 2000-an memakai kaus tie dye, tanpa mengerti maknanya. Musik hari ini pun sudah jauh berbeda. Tak ada lagi musik yang benar-benar dimainkan dari dalam hati